Tentang Biennale Jogja X – 2009
Setelah kurang-lebih 21 tahun, sesudah 9 kali perhelatan, Yogyakarta Biennale telah menjadi sebuah tradisi seni rupa yang memungkinkan masyarakat mengapresiasi perkembangan estetis dan pencapaian artistik para pelaku seni rupa di kota ini. Hal lain yang selalu diperhatikan dalam perhelatan biennale adalah tema kuratorial yang hendak digagas.
Pada Biennale Jogjakarta X ini, tema kuratorial berangkat dari sebuah persoalan nyata seni rupa di kota ini, yaitu ingatan masyarakatnya yang begitu pendek akan sejarahnya sendiri. Adapun salah satu penyebabnya adalah pengelolaan data yang begitu lemah, baik secara individu maupun lembaga. Rapuhnya dokumentasi menjadi titik kritis ketika bangunan seni rupa kesulitan meletakkan dirinya dalam konteks yang lebih luas. Atas dasar inilah, Biennale Jogja X merupakan suatu momen ajakan bagi para perupa untuk membaca, menafsirkan kembali semangat zaman dalam setiap era sejarah seni rupa. Tujuan dari biennale ini bukan untuk mengumpulkan arsip, tetapi lebih pada menggugah kesadaran para perupa tentang pentingnya masa lalu yang terus memiliki kekinian.
Jika kita kilas balik seni rupa Jogjakarta, maka kita akan menemui sebuah semangat yang menjadi penanda zamannya. Humanisme Kerakyatan, telah menjadi penanda semangat yang dominan di zaman Affandi, Hendra Gunawan, dan Sudjojono yang merupakan generasi pemula seni rupa modern Indonesia hingga tahun 1960an. ASRI yang berdiri pada tahun 1950an, tidak bisa tidak juga membawa wacana tersebut yang kemudian membedakan dirinya dari wacana yang menguat di Bandung misalnya. Di masa rezim orde baru, wacana yang terbangun dalam seni rupa pun cenderung apolitis. Bentuk-bentuk estetika dominan yang berkembang lebih mengarah pada semangat humanisme universal dengan menguatnya seni abstrak, dekoratif, dan lain-lain. Belakangan, kita juga mengetahui, “semangat” yang berimplikasi pada laku dan pilihan estetik, digugat oleh generasi setelahnya, seperti tercermin dalam “Gerakan Seni Rupa Baru” dan “Seni Kepribadian Apa”. Kemudian, kecenderungan di luar dunia seni rupa, yaitu perbincangan tentang me-”lokal” dan meng-”global” pada tahun 1980-an telah menyeret praktek-praktek seni rupa Jogjakarta. Dalam hal ini, perhelatan Biennale Seni Lukis I hingga Biennale Seni Rupa Jogja IX dapat dijadikan sebagai studi kasus, terutama soal-soal organisasi pelaksanaannya. Hingga yang paling kontemporer, praktek-praktek seni rupa yang tidak bisa menghindar dari budaya urban dan kecenderungan pasar.
Dari pembacaan atas sejarah seni rupa Yogyakarta di atas, dapat diambil lima (5) “semangat” atau “paradigma” utama yang dipakai para perupa untuk menjadi acuan dalam berkarya, yaitu:
1. Humanisme Kerakyatan
2. Humanisme Universal
3. Perlawanan terhadap estetika
4. Pergolakan antara budaya global dan lokal
5. Seni rupa berbasis pada keseharian kehidupan urban
Pengantar Kuratorial
Hal yang membedakan Yogyakarta dengan kota-kota besar lain di Indonesia adalah denyut seni yang begitu keras detaknya. Tidak ada minggu yang kosong tanpa pameran seni rupa. Seniman tak pernah kehabisan ide untuk menggunakan berbagai tempat sebagai “galeri.” Tidak ketinggalan, warga biasa pun berkarya di ruang-ruang publik. Situasi ini kiranya bisa diibaratkan dalam sebuah idiom jawa, gugur gunung, dimana gotong royong, kebersamaan, masih kental dalam proses sosial berkesenian di Yogyakarta. Dinamika ini bisa juga dilukiskan sebagai jam session dimana masing masing seniman saling berdialog, berbagi, serta menciptakan kreasi dalam harmoni.
Gerak kreatif tersebut telah melahirkan karya monumental dan wacana yang menandai semangat di setiap zamannya, seperti humanisme kerakyatan, humanisme universal, perlawanan terhadap kemapanan estetika, pergolakan antara budaya lokal dan global, dan seni rupa urban.
Biennale Jogjakarta X-2009 bertajuk “Jogja Jamming: Gerakan Arsip Seni Rupa” merupakan refleksi dari dinamika tersebut. Refleksi ini dituangkan dalam dua praktik, yaitu penafsiran perupa terhadap semangat zaman di atas dan pameran arsip. Dalam konteks ini, pemaknaan terhadap arsip bukanlah sekadar benda mati, tetapi juga ingatan yang hidup di masa kini.
Praktik ini dihantar oleh 126 perupa yang menggelar karya-karya menarik di Taman Budaya Yogyakarta, Sangkring Art Space, Jogja National Museum. Sementara pameran arsip akan digelar di Gedung Bank Indonesia. Kemudian lebih dari 200 perupa dan warga kota akan melebur bersama untuk merespon sudut-sudut kota. Pada titik ini, biennale bukan sekadar mempertontonkan karya seni rupa, tetapi juga ruang bagi beroperasinya sebuah kultur.
Tim Kurator
Eko Prawoto, Hermanu, Samuel Indratma, Wahyudin