Tentang Biennale Jogja

Setelah kurang-lebih 21 tahun, sesudah 9 kali perhelatan, Biennale Jogja telah menjadi sebuah tradisi seni rupa yang memungkinkan masyarakat mengapresiasi perkembangan estetis dan pencapaian artistik para pelaku seni rupa di kota ini. Selengkapnya »

Pengantar Kuratorial

Hal yang membedakan Yogyakarta dengan kota-kota besar lain di Indonesia adalah denyut seni yang begitu keras detaknya. Tidak ada minggu yang kosong tanpa pameran seni rupa. Seniman tak pernah kehabisan ide untuk menggunakan berbagai tempat sebagai �galeri.�Selengkapnya »

Berita Terbaru

public event kami yang terakhir yaitu “Diskusi Pendokumentasian dan Proses Kekaryaan Pipa”

Hello! Akhirnya sampai juga rangkaian public event dalam Biennale Jogja X 2009. Kami mengundang teman-teman untuk menghadiri public event kami yang terakhir yaitu “Diskusi Pendokumentasian dan Proses Kekaryaan Pipa”.
Diskusi Pendokumentasian dan Proses Kekaryaan PIPA
PIPA: Kelompok Seni Rupa Kepribadian Apa lahir dalam gelombang wacana Gerakan Seni Rupa Baru sejak akhir 70-an. Kini PIPA menjadi salah satu [...]

Biennale Jogja X 2009 mengundang anda untuk menghadiri Public Hearing: Lembaga Biennale Jogja.

Tim Formatur Biennale merencanakan pendirian lembaga formal yang secara khusus mengelola Biennale di Jogjakarta. Pendirian lembaga formal ini akan diwancanakan terhadap publik, berbagi tentang pentingnya Biennale untuk masyarakat Jogjakarta dan mencari masukan untuk lembaga ini dari masyarakat seni.

Halo, Biennale Jogja X 2009 kembali mengundang teman-teman untuk menghadiri Public Lecture: Seni Rupa Asia Tenggara..

Tajuk ini dirancang untuk melanjutkan pembahasan pada isu-isu yang sifatnya lebih berbasis pada proses penciptaan kreatif serta konteks sosial politik yang membingkainya.
Salah satu sasaran kunci adalah upaya untuk merintis kontribusi yang efektif pada wacana seni rupa kontemporer yang ada.

Halo, Biennale Jogja X 2009 kembali mengundang teman-teman untuk menghadiri

Hari ini posisi kurator dianggap sebagai kunci kesuksesan pameran. Meskipun perguruan tinggi seni di Indonesia semakin banyak, belum ada pendidikan khusus yang mendidik seseorang menjadi kurator. Posisi kurator di Indonesia diadopsi dari konsep barat mengenai sesorang yang berhak melakukan kategorisasi, kalsifikasi dan seleksi karya, terutama untuk membuat pameran.